August 16, 2022

Perhatikan Tata Cara Menggelar Aqiqah yang Disunahkan Rasulullah SAW

5 min read

Sebelum lanjutkan artikel Perhatikan Tata Cara Menggelar Aqiqah yang Disunahkan Rasulullah SAW, Sekedar kami info:

Jika anda berminat mencari Jasa Aqiqah Terpercaya dan Profesional dengan harga murah kunjungi website Jasa Aqiqah Jabodetabek

Aqiqah bisa diasumsikan jadi wujud rasa sukur terhadap Allah SWT atas kelahiran bayi. Rasa sukur itu direalisasikan dengan potong kambing serta dibagikannya terhadap saudara, tetangga, serta mereka yang perlu.

Aqiqah acapkali disamakan seperti pemangkasan hewan kurban waktu Idul Adha, tapi pastilah kemauan serta tata teknik implementasinya punyai ketidakcocokan. Secara bahasa, aqiqah punyai makna “potong” yang datang dari bahasa arab “al-qat’u”. Ada pula uraian lain aqiqah adalah nama rambut bayi yang baru dilahirkan.

Menurut arti, aqiqah merupakan proses kesibukan menyembelih hewan ternak dalam hari ke-7  sehabis bayi dilahirkan. Menurut ijtihad kebanyakan ulama yang dianggap terkuat, aqiqah hukumnya merupakan sunnah muakad. Aqiqah jadi beribadah yang perlu serta dikedepankan.

Kalau bisa untuk melaksanakannya, orang tua sangatlah direkomendasi untuk mengerjakan aqiqah anaknya saat waktu bayi. Tapi, buat yang tidak bisa untuk menjalankannya juga aqiqah bisa dibiarkan tiada berdosa.

Diriwayatkan Al-Hasan dari Sammuroh rodhiyallahu ‘anhu, kalau Rasulullah SAW bersabda:

“Seluruh anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelihkan dalam hari ke-7 , dicukur rambutnya, serta dikasihkan nama.” (HR Ahmad 20722, At-Turmudzi 1605 serta dianggap shahih oleh Al-Albani).

Ini merupakan hadist yang terkuat perihal disyariatkannya aqiqah.

Syariat untuk mengerjakan aqiqah cuma bisa Mam temui di hadist-hadist Nabi Muhammad SAW, serta tidak didapati di ayat Al Qur’an. Meskipun tidak ada Al-Qur’an, Ustadz Aris Munandar berikan keterangan kalau orang muslim tidak membeda-bedakan ketentuan dalam Al Quran serta hadist.

Ini lantaran kita diminta untuk patuh terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai halnya kita patuh terhadap Allah serta ayat-ayat Al Qur’an.

“Aqiqah jadi sebuah hal yang sangatlah ternama serta tidak dipisah di tengah kehidupan beragama kelompok muslimin. Serta beberapa ulama di era salaf membenci serta tidak menggemari mereka yang dapat mengerjakan aqiqah tapi tinggalkan syariat aqiqah,” papar Ustadz Aris Munandar.

Buat saat realisasi aqiqah, Irsyad berkata, rata-rata dijalankan dalam hari ke-7  dari kelahiran bayi. Ini menurut hadist Rasulullah SAW. Diriwayatkan Samurah bin Jundub Ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap bayi dipertaruhkan oleh aqiqahnya yang disembelih untuk dirinya pada hati ke-7 , lalu dicukur serta dinamakan.” (HR. An-Nasa’i).

Menengok dari hadist shahih perihal aqiqah di atas, waktu untuk mengerjakan aqiqah pada Sang Kecil direkomendasi dalam hari ke-7  sehabis kelahirannya. Teknik mengalkulasi hari ke-7  yakni dengan sertakan hari kelahirannya.
Umpama, kalau Sang Kecil lahir pada hari Senin, karenanya aqiqah bisa dijalankan pada hari Minggu selanjutnya.

Lalu, bagaimana kalau tidak dapat menjalankan aqiqah benar dalam hari ke-7 ? Apa dapat dihari yang lain. Dalam sebuah hadist dijelaskan, “Pendabihan hewan aqiqah dapat hari yang ketujuh, hari ke-14, atau hari ke-21.” Hadist ini dipandang seperti hadist yang shahih oleh sejumlah ulama.

Aqiqah bisa dijalankan hingga sampai ada kebolehan, juga bila sudah dewasa sekalinya. Nabi SAW juga mengaqiqahi dianya di saat Beliau udah diutus jadi orang Nabi. Histori ini pula jadi dasar diperkenankannya satu orang untuk mengaqiqahi dianya kalau orang tuanya belum mengaqiqahi di saat kecil atau mungkin tidak punyai kebolehan oleh karena itu.

Lekas kenali tata teknik mengerjakan aqiqah agar Mam dapat menyediakan waktu serta bujet untuk menyelenggarakan aqiqah. Waktu telah berniat untuk mengaqiqahi Sang Kecil, ada sesuatu hal yang harus jadi perhatian, terlebih untuk jumlah kambing yang bisa disembelih.

Dari hadist diriwayatkan, “Siapa dari kalian penyuka menyembelih atas kelahiran anak karenanya kerjakan, anak laki dua ekor kambing yang cukup kriteria, anak wanita dengan 1 ekor” (HR Ahmad, Abu Dawun, An-Nasaa-i).
Sebetulnya tata teknik realisasi aqiqah di antara anak laki laki serta wanita sama pula.

Soal yang memilahnya sekedar dalam jumlah hewan yang disembelih. Pada anak laki laki mesti sejumlah 2 ekor kambing yang sekufu atau ke-2 nya serupa (sama umurnya, sama ragamnya, sama bentuknya). Kalau tidak serupa tepat, sekurang-kurangnya dekati. Sedang, untuk anak wanita jumlah hewan aqiqah cuma 1 kambing saja.

Apakah bisa kalau aqiqah kecuali hewan kambing?

Sapi atau unta pula diijinkan dengan kriteria cuma 1 unta atau 1 sapi untuk seseorang anak saja. Tapi, sejumlah ulama beranggapan kalau aqiqah yang diijinkan cuma pakai kambing saja lantaran sama dengan asas Rasulullah SAW.

Waktu menyembelih, ada sesuatu hal yang penting jadi perhatian ialah tidak memutus tulang dari sembelihan dengan makna yang terdapat merupakan tafa’ul atau mengharapkan dapat keselamatan badan dan anggota tubuh dari anak itu.

Sehabis proses pendabihan hewan aqiqah serta bagikan ke sanak saudara, tetangga, dan orang yang perlu, ingat untuk cukur rambut Sang Kecil serta menamai yang bagus sebagai halnya sabda Nabi SAW.

Mencuplik web Dalam Islam, sehabis potong rambut, karenanya diteruskan kembali dengan masukkan suatu yang manis ke mulut bayi. Beberapa Kawan dekat punyai rutinitas bayi yang baru-baru ini lahir dapat dibawa langsung ke hadapan Rasulullah SAW.

Beliau lantas dapat memerintah untuk diambilkan kurma lalu mengunyahnya hingga sampai lembut. Lantas, beliau dapat ambil sedikit dari mulutnya lalu memberi ke dalam mulut bayi secara sentuh langit-langit mulut bayi maka dari itu akan segera disedot.

Gula atau makanan manis dari masalah ini ialah karbohidrat atau glukosa, di mana sebagai sumber kebolehan dari fisik dan ludah dari Rasulullah SAW yang bisa berikan rahmat. Sunnah ini lalu dilanjutkan oleh kaum muslim ialah dengan mentahnikkan bayi pada beberapa ulama.

Sekarang, kita banyak menemui, ya, Mam, beberapa tempat pendabihan hewan aqiqah yang sekalian mengolah serta bikin hantaran berwujud nasi kotak dengan beberapa masakan daging kambingnya. Serta seperti pada berkurban, faksi keluarga juga diizinkan untuk makan daging aqiqah. Meskipun tidak biasa, tapi rupanya hasil sembelihan aqiqah juga bisa dikasihkan pada situasi mentah.

Aqiqah yang sesuai sama syariat serta yang diberikan dalam sunah benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan hewan yang disembelih untuk kelahiran anak dalam hari ke-7 . Dua ekor kambing untuk anak laki laki serta satu ekor kambing untuk anak wanita.

Serta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam udah meng-aqiqahi Hasan serta Husain radhiyallahu ‘anhu. Serta sohibul aqiqah bisa menunjuk, bisa membagikan berbentuk daging (mentah) terhadap beberapa keluarga, rekan atau orang miskin.

Ini jadi pertanyaan yang kerap dilepaskan oleh beberapa orang. Bagaimana kalau aqiqah dijalankan waktu anak telah dewasa atau terlanjur besar?

Menurut masukan beberapa ulama, kalau orang tuanya dulu merupakan orang yang tidak bisa pada waktu waktu direkomendasinya aqiqah, karenanya dia tidak mempunyai kewajiban apapun meski kemungkinan seterusnya dia telah bisa untuk aqiqah. Sebagai halnya kalau satu orang miskin di saat waktu pensyariatan zakat, karenanya dia tidak hendaknya keluarkan zakat, meskipun seterusnya keadaannya serba cukup.

Sehingga kalau kondisi orang tuanya tidak bisa di saat pensyariatan aqiqah, kewajiban aqiqah jadi tumbang lantaran dia tidak punyai kebolehan. Sedang kalau orang tuanya bisa mulai sejak anak lahir, tapi dia menangguhkan aqiqah sampai anaknya dewasa, karenanya pada waktu itu anaknya selalu diaqiqahi meski telah dewasa.

Begitupun hadits bercakap:

“Kalau satu orang anak tidak diaqiqahi, karenanya dia tak kan memberinya syafaat terhadap orang tuanya dalam hari kiamat kelak.”

Imam Asy Syafi’i berpendapat kalau aqiqah selalu direkomendasi meski diakhirkan. Tapi direkomendasikan biar tidak diakhirkan sampai umur baligh.

Kalau aqiqah diakhirkan sampai umur baligh, kewajiban orang-tua jadi tumbang. Walau demikian di saat itu, anak mempunyai alternatif, bisa mengaqiqahi dianya atau mungkin tidak. (Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)

Info Lainnya kunjungi jasa layanan aqiqah terpercaya dan profesional

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.