Ogoh-Ogoh: Seni dan Budaya Bali yang Dilakukan Untuk Mengusir Energi Negatif

Aapakah kamu pernah mendengar atau melihat ogoh-ogoh ? Atau mungkin beberapa dari kamu justru baru tahu atau baru mendengar ogoh-ogoh ? Ogoh-ogoh merupakan salah satu seni dan budaya Bali yang cukup terkenal.

Bali merupakan pulau yang memiliki sejuta daya Tarik, selain dari sektor wisata Bali juga terkenal dengan keberagaman dari budaya yang di miliki itulah mengapa banyak wisatawan asing maupun local yang mendatangi pulau dengan sejuta daya Tarik ini.

Bali memang memiliki budaya yang cukup beragam seperti wayang kulit, seni tari Bumbung, Janger, Genjek, sampai Ogoh-ogoh.

Berbicara mengenai ogoh-ogoh merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Bali dimana pawai ini hanya di lakukan sehari sebelum hari raya nyepi.

Mengenal Seni dan Budaya Bali Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh memiliki bentuk menyerupai buta dengan ukuran cukup besar. Pawai ogoh-ogoh biasanya di lakukan sehari sebelum hari raya nyepi. Pawai atau ritual ini di adakan dengan tujuan untuk menghalau kehadiran buta Yadnya (sosok jahat dalam mitologi hindu).

Tidak hanya satu tempat saja yang akan melaksanakan pawai budaya ogoh-ogoh ini melainkan setiap menjelang hari raya nyepi hampir semua masyarakat Bali berlomba-lomba untuk membuat patung ogoh-ogoh.

Bentuk dari ogoh-ogoh di setiap tempat pun berbeda-beda namun tetap mengutamakan syarat bahwa patung ogoh-ogoh harus di buat dengan ukuran yang besar layaknya raksaksa dengan wajah yang juga sengaja di buat menyeramkan hal ini karena ogoh-ogoh merupakan symbol dari  kejahatan sampai sifat buruk yang ada di sekitar kehidupan manusia.

Pawai ogoh-ogoh juga di laksanakan tidak pada sembarang waktu loh, pawai ini biasanya di lakukan pada menjelang malam sekitar pulkul 18.00-19.00 hal ini karena masyarakat disana meyakini bahwa pada waktu menjelang malam adalah waktu buta Yadnya berkeliaran.

Tahukah kamu proses dari pembuatan ogoh-ogoh ini bisa terbilang cukup sulit dan memakan cukup banyak waktu, patung ogoh-ogoh dulu terbuat dari rangkaian bambu yang di bentuk menjadi sosok raksaksa yang di inginkan namun seiring berjalannya waktu di zaman sekarang sudah cukup banyak orang yang membuat ogoh-ogoh dari sterofoam selain untuk mempercepat proses pembuatan hasil dari ogoh-ogoh juga terlihat lebih bagus. Masyarakat juga biasanya akan membuat patung ogoh-ogoh secara bersamaan.

Pawai dari ogoh-ogoh sendiri di lakukan dengan cara menggotong patung raksaksa Buta Yadnya lalu di goyang-goyangkan karena itulah masyarakat Bali menyebut pawai ini dengan sebutan pawai ogoh-ogoh karena dalam Bahasa Bali sendiri gerakan menggoyang itu biasa di sebut ogah-ogah.

Pawai ogoh-ogoh sendiri terbagi menjadi dua tahapan, tahapan yang pertama di sebut tahapan ngrupuk (pengerupukan) dan tahapan yang kedua di sebut dengan Mecaru (Caru).

Ritual ngrupuk merupakan ritual berkeliling ke sekitar pemukiman warga dengan mengarak patung ogoh-ogoh sebari membawa asap dupa dan obor juga menaburi nasi di sekitar pemukiman selain itu juga masyarakat biasanya akan membuat bunyi-bunyian hal ini di lakukan guna mengusir roh jahat atau energy tidak baik yang akan menyerang.

Sementara ritual mecaru (caru) merupakan ritual untuk menyerahkan sesajen kepada buta kala.

Setelah pawai selesai biasanya patung raksaksa ogoh-ogoh ini akan segera di musnahkan bersamaam dengan di musnahkannya patung ogoh-ogoh di harapkan juga dapat menghanguskan energy negatif yang akan menyerang.

Namun pasca pandemic pawai ini terpaksa di tiadakan meskipun begitu masyarakat Bali tetap melaksanakan hari raya nyepi.

Begitulah penjelasan mengenai fungsi, asal usul dari pawai ogoh-ogoh semoga dapat menambah wawasan sekaligus kecintaan kita terhadap budaya kita sendiri. Kunjungi laman resmi Triponnews.com untuk mendapat info pendidikan terkini dan berita Bali Terkini secara Up to Date