October 7, 2022

Model Analisis Forecasting Penjualan dalam Bisnis

4 min read
Analisis Forecasting Penjualan

Analisis Forecasting Penjualan

1. Konsep Analisis Forecasting Penjualan

a. Pengertian forecasting

Forecasting adalah suatu cara untuk mengukur atau menaksir kondisi bisnis pada masa mendatang, yaitu pengukuran dapat dilakukan secara kuantitatif (menggunakan metode matematik dan statistik) dan kualitatif (menggunakan judgment/pendapat). Realisasi sesuatu hampir tidak pernah sama dengan hal-hal yang diperkirakan, tetapi memperkirakan sesuatu harus dilakukan demi perencanaan yang lebih luas. Ada beberapa manfaat peramalan untuk perusahaan, yaitu
(1) menambah kemampuan perusahaan untuk mengadakan pengawasan informasi kegiatan tertentu atau memperbaiki proses pemberian laporan;
(2) memungkinkan timbulnya team work di antara pimpinan;
(3) memungkinkan dibuatnya jadwal pembelian, produksi, budget penjualan dan budget alokasi pengeluaran sehingga diperoleh pedoman dasar bekerja yang relatif lebih tepat.

Kunjungi Juga Spesifikasiproduk.com untuk mengetahui Review Produk-produk Terlaris di Pasaran Indonesia saat ini, agar tidak ketinggalan untuk mendapatkan diskon harga besar-besaran untuk setiap produk yang ditawarkan. Serta Bisnis dan berita Viral terbaru.

b. Forecasting penjualan

Forecasting penjualan merupakan perkiraan penjualan pada suatu waktu yang akan datang dalam keadaan tertentu dan dibuat berdasarkan data-data yang pernah terjadi dan/atau mungkin akan terjadi. Forecasting penjualan adalah teknik proyeksi tentang permintaan konsumen potensial pada suatu periode tertentu dengan menggunakan berbagai asumsi tertentu pula. Peramalan penjualan adalah dasar dari anggaran penjualan, yang pada akhirnya menjadi dasar untuk semua anggaran operasi lainnya dan sebagai dasar penyusunan anggaran keuangan. Pengertian peramalan penjualan menurut para ahli, di antaranya sebagai berikut.
1) M. Nafarin menyatakan, “Peramalan penjualan adalah perkiraan penjualan pada waktu yang akan datang dalam keadaan tertentu dan dibuat berdasarkan data-data yang pernah terjadi dan/atau mungkin akan terjadi”.
2) Welsch Hilton dan Gordon menjelaskan bahwa ramalan (forecast) bukan merupakan rencana, melainkan pernyataan dan/atau penaksiran terukur dari keadaan pada masa datang tentang pokok tertentu (misalnya, pendapatan penjualan) berdasarkan satu atau lebih asumsi yang jelas.

c. Faktor-faktor yang memengaruhi pembuatan forecasting penjualan

Ada lima faktor yang memengaruhi suatu forecast atau peramalan penjualan, yaitu sebagai berikut.

1) Sifat produk

Pada faktor ini lebih mengedepankan pada sifat produk yang dihasilkan oleh perusahaan; apakah produk ini bisa bertahan dalam jangka waktu yang panjang atau dalam jangka waktu pendek.

2) Metode distribusi

Faktor ini lebih menitikberatkan pada metode distribusi yang digunakan oleh perusahaan; apakah letak perusahaan dekat dengan pasar atau dekat dengan bahan baku.

3) Besarnya perusahaan dibandingkan dengan pesaing

Pada faktor ini, perusahaan lebih melihat pada posisi suatu perusahaan pada pasar, baik perusahaan sebagai market leader, market challenger, market follower, maupun market niecher.

4) Tingkat persaingan

Faktor ini untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat persaingan dengan perusahaan pesaing.

5) Data historis

Data historis yang diperlukan minimal berjumlah lima tahun terakhir dari perusahaan.

2. Teknik-teknik dalam Peramalan Penjualan

Cara atau metode untuk melakukan penaksiran atau peramalan dapat dibedakan menjadi dua sifat, yaitu sebagai berikut.
a. Bersifat kualitatif, yaitu cara penaksiran yang menitikberatkan pendapat seseorang. Cara penaksiran semacam ini mempunyai kelemahan yang menonjol, yaitu pendapat seseorang sering diwarnai oleh hal-hal yang bersifat objektif. Dengan demikian, ketepatan hasil taksiran menjadi diragukan. Adapun beberapa cara penaksiran atau peramalan yang bersifat kualitatif, antara lain:
1) pendapat pimpinan bagian pemasaran;
2) pendapat para petugas penjualan;
3) pendapat lembaga-lembaga masyarakat;
4) pendapat konsumen;
5) pendapat para ahli yang dianggap memahami.

b. Bersifat kuantitatif, yaitu cara penaksiran yang menitikberatkan pada perhitungan angka yang menggunakan berbagai metode statistik. Cara peramalan atau penaksiran yang kuantitatif semacam ini diharapkan dapat menghilangkan unsur-unsur subjektif seseorang sehingga hasil taksirannya dapat lebih dipertanggungjawabkan.

3. Model Analisis dalam Peramalan Penjualan

Ada beberapa model analisis dalam peramalan penjualan, di antaranya sebagai berikut.

a. Forecast berdasarkan pendapat (judgemental method)

Hal-hal yang dapat dikategorikan forecast berdasarkan pendapat (judgemental method), terdiri atas sebagai berikut.

1) Pendapat salesman

Para salesman diminta untuk mengukur kemajuan atau kemunduran segala hal yang berhubungan dengan tingkat penjualan di daerah mereka masing-masing. Kemudian, mereka diminta pula untuk mengestimasi tingkat penjualan di daerah masing-masing pada waktu mendatang.

2) Pendapat kepala bagian pemasaran

Seorang kepala bagian penjualan tentu memiliki pertimbangan dan pandangan yang lebih luas, yang meliputi seluruh daerah penjualan. Pada umumnya, perkiraan kepala bagian penjualan dapat lebih objektif karena mempertimbangkan banyak faktor. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh pendidikannya yang relatif lebih tinggi dan pengalamannya yang lebih luas di bidang penjualan.

3) Pendapat para ahli

Kadang-kadang perkiraan yang dibuat oleh salesman dan kepala bagian penjualan bertentangan satu dan lainnya sehingga perusahaan

4) Survei konsumen

Apabila ketiga pendapat tersebut masih dirasa kurang dapat dipertanggungjawabkan, biasanya diadakan penelitian langsung terhadap konsumen.

b. Forecast berdasarkan perhitungan statistik (statistical method)

Forecast berdasarkan perhitungan statistik (statistical method), terdiri atas sebagai berikut.

1) Analisis trend

Analisis trend merupakan metode analisis yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik, analis membutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu yang relatif cukup panjang sehingga dari hasil analisis tersebut dapat diketahui sampai berapa besar fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi terhadap perubahan tersebut.

a) Garis trend bebas

Metode trend bebas cenderung digunakan sebagai analisis pendahuluan yang akan memberikan gambaran awal dari suatu permasalahan yang akan dihadapi. Metode trend bebas mencoba melihat pola data amatan melalui tebaran titik dari pasang data penjualan pada setiap waktunya. Berdasarkan tebaran data yang terbentuk dapat diperkirakan trend penjualan dari data tersebut. Metode ini biasanya digambarkan dalam bentuk grafik. Metode ini jarang digunakan dengan alasan, yaitu tidak memerhatikan hitungan kualitatif dan berdasarkan data subjektif, tidak berdasarkan model tertentu, tidak berdasarkan metode deduktif dan induktif, serta tidak logis dan sistematis.

b) Garis trend metode setengah rata-rata (trend semi average)

Metode trend semi average dapat digunakan untuk keperluan peramalan dengan membentuk suatu persamaan seperti analisis regresi. Metode ini dapat digunakan dengan jumlah data genap ataupun ganjil. Dalam analisis trend ini, unsur subjektivitas mulai dihapuskan karena teknik peramalannya sudah menggunakan perhitungan.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.