Belanja Preloved Dan Cara Pintar Miliki Barang Mewah

Barang bekas alias barang seken telah lama menjadi keliru satu alternatif membeli di dalam dunia fesyen. Namun, kini barang seken itu dipersolek dengan kata-kata anyar yang lebih menarik perhatian. ‘Preloved’, kini tren barang-barang bekas itu disebut.

Jual Preloved merupakan kosakata bahasa Inggris yang artinya barang seken. Kosakata ini kini menjadi lebih sering disebut daripada barang bekas atau barang seken, lebih-lebih untuk barang-barang mewah.

“Preloved itu cuma permainan kata-kata saja, ya. Sebutan manisnya, ya, pereloved. Intinya, ya seken,” kata pendiri Irresistible Bazaar Marissa Tumbuan pas konferensi pers pembukaan bazar spesifik untuk barang-barang preloved di Gandaria City, Jakarta, belum lama ini.

Ini merupakan kali ke-13 Marissa menggelar Irresistible Bazaar yang mengumpulkan para penjual barang-barang bekas terpercaya. Getol digelarnya acara ini didorong oleh tren dan permintaan pada barang bekas yang terus meningkat.

Data yang dimiliki Reebonz–salah satu platform e-commerce di dalam fesyen–menyebut bahwa tren barang-barang preloved ini sedang naik daun. Di Indonesia, transaksi untuk barang-barang preloved mewah dan orisinal tercatat kurang lebih US$500 juta.

Saat ini, kata Marissa, banyak orang lebih terbuka mengenakan barang-barang mewah seken. Kebanyakan orang tak lagi memikir gengsi, dikarenakan perbedaan antara barang baru atau seken cenderung tak terlihat.

“Kalau gengsi itu preferensi masing-masing. Ini saya pakai barang seken enggak kelihatan, kan, barangnya preloved. Intinya preloved itu keliru satu cara menjadi pembeli pintar,” tutur Marissa.

Barang preloved, sebut Marissa, menyebabkan orang-orang mampu punya barang mewah orisinal dengan harga miring. Selain harga yang lebih murah, barang preloved terhitung umumnya punya situasi layak pakai.

“Trennya sekarang telah open minded. Ini bukan suatu hal yang tidak layak pakai atau layaknya barang garage sale, tapi tetap layaknya barang-barang dengan situasi yang baik dan punya nilai fesyen dan nilai jual,” ucap Marissa.

Kondisi barang adalah keliru satu penentu mutu barang preloved. Ada beberapa kategori barang preloved, merasa dari ‘like new’ (seperti baru) hingga ‘need spa’ (membutuhkan spa).

Preloved kategori ‘like new’ umumnya hadir dengan situasi yang masih terlampau bagus. Waktu penggunaan pada mulanya terhitung barangkali mampu dihitung dengan jari. Lalu, ada pula kategori preloved ‘excellent’ dan ‘very good condition’ dengan situasi barang 80 prosen bagus.

Yang terakhir adalah kategori ‘need spa’, di mana barang seken tersebut butuh perawatan pada anggota tertentu. “Istilahnya yang need spa ini telah terlampau puas pakai,” ujar Marissa.

Tak cuma memilih kualitas, situasi barang preloved ini terhitung menjadi acuan harga jual barang. Semakin baik situasi barang, maka makin tinggi harga yang ditawarkan.

Selain itu, tren fesyen yang sedang diminati terhitung ikut merubah harga barang. Semakin banyak barang dicari, maka harga bakal makin melambung tinggi.

Namun, tak ada patokan spesifik berapa harga jual barang-barang preloved ini. Kira-kira kisarannya capai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Enggak ada teori yang kudu diikuti plek-plek,” ucap Marissa.

Bagi Anda yang tertarik dengan barang-barang preloved, Anda pasti kudu memperhatikan beberapa hal. Marissa menjelaskan bahwa barang-barang orisinal punya ciri autentik yang tak mampu ditiru oleh produk KW sekalipun.

Anda kudu meneliti aroma dan tekstur kulit, kode barang, hingga resleting. Selain itu, penjual dengan rekam jejak yang bagus terhitung kudu menjadi perhitungan.

Harganya jauh lebih murah dan mutu barang terpercaya ini menyebabkan banyak orang kepincut mengejar barang-barang preloved. Katie, misalnya, yang gemar membeli barang preloved. Pasalnya, dengan membeli barang-barang preloved ini, perempuan berusia 47 th. itu mampu beroleh barang bermerek dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

“Wah, murah sekali harganya mampu turun jauh. Kan, enggak tampak terhitung ini barang preloved atau tidak,” ujar Katie.